<div style='background-color: none transparent;'><a href='http://news.rsspump.com/' title='rsspump'>news</a></div>








Kurikulum Berbasis
Sukses Dunia & Akherat

         

Nasab Baginda Nabi Muhammad SAW Sampai Nabi Adam AS

Kamis, 26 Maret 2015 | komentar

Kelahiran nabi, kita mulai dari nasab Nabi SAW. Rasulullah SAW sebagai manusia terbaik, sebagi nabi dan rasul terbaik itu semuanya apa yang beliau lakukan, apa yang beliau miliki memiliki arti yang dalam bagi kita hari ini. Itulah kenapa nabi menjadi uswatun hasanah (teladan yang baik). Termasuk masalah nasab. Kalau masalah nasab bisa jadi kita berkata bahwa masalah lahir keturunan siapa bukanlah pilihan kita. Tapi ada sisi yang secara nasab bisa menjadi pelajaran besar bagi kita.

Kisah Romantis Nabi Muhammad Bersama Istri

Kamis, 19 Maret 2015 | komentar

Ummul Mukminiin, Sayyidah Aisyah RA., terharu saat ditanya tentang kenangannya bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang paling mengagumkan. Istri kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam itu menjawab dengan penghayatan yang begitu dalam :
Kaana kullu amrihi ‘ajaba
Semua tentangnya menakjubkan !.
Seolah-olah Aisyah RA berbalik bertanya : “ Manakah dari pribadi beliau yang tidak mengagumkan ? “. 

Begitu romantisnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, hingga Sayyidah Aisyah RA tidak bisa melukiskannya dengan kata-kata selain “menakjubkan !”
MENCIUM ISTRI KETIKA AKAN PERGI
Di antara sisi romantis Rasulullah SAW, beliau mencium istrinya sebelum keluar untuk shalat.
Dari ‘Aisyah RA, “Bahwa Nabi SAW mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudhu dahulu” (HR. Ahmad)
MENGGENDONG SAYYIDAH AISYAH RA
Sayyidah Aisyah RA ingat persis ketika Rasulullah SAW menggendongnya mesra melihat orang-orang Habsyi bermain-main di pekarangan masjid hingga ia merasa bosan.
BERMAIN DENGAN SAYYIDAH AISYAH RA
Di hari lainnya, suaminya tercinta itu malah mengajaknya berlomba lari dan mencuri kemenangan atasnya saat badannya bertambah subur.
BERMANJA KETIKA SAYYIDAH AISYAH RA MARAH
Nabi saw biasa memijit-menjepit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Aisya,bacalah do’a:
“WahaiTuhanku,TuhanMuhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah  diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni). 
Ini tips bila istri sedang marah dari Rasulullah SAW, kalau istri sedang marah, coba di jepit hidungnya dengan manja dan penuh kasih, insyaAllah marahnya hilang.
PANGGILAN KESAYANGAN
Aisyah ra juga takkan lupa saat Rasulullah saw memanggilnya dengan panggilan kesayangan “Humaira” (yang pipinya kemerah-merahan ). Sebuah panggilan yang benar-benar mampu membuat pipi Aisyah bersemu merah jambu, malu dan salah tingkah. 
Sementara di dalam rumah, potret romantis Sayyidah Aisyah RA bersama Rasulullah SAW lebih menakjubkan. Mereka makan sepiring berdua, tidur satu selimut berdua, bahkan hingga mandi satu bejana. Bayangkan, adakah yang lebih romantis dari tiga hal tersebut ?
MAKAN SEPIRING BERDUA
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga suka memakan dan meminum berdua dari piring dan gelas istri-istrinya tanpa merasa risih atau jijik.
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: “Saya dahulu biasa makan his (sejenis bubur) bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.“ (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod)
Dari Aisyah Ra, ia berkata: “Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haidh, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.”  (HR Abdurrozaq dan Said bin Manshur, dan riwayat lain yang senada dari Muslim.)
“Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum di gelas yang digunakan ‘Aisyah. Beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit ‘Aisyah” (HR Muslim No. 300)
BERCANDA MELUMURI WAJAH DENGAN KUE
Yang unik lagi misalnya, jika Anda pernah melihat film- film barat, maka ada sebuah kebiasaan aneh saat pesta , yaitu melumuri atau melempar wajah temannya dengan kue-kue yang ada. Kemudian mereka saling membalas. 

Ternyata, uswah kita tercinta Nabi Muhammad Shallallahu Alaiahi Wa Salam pernah melakukannya dengan dua istrinya ; Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Saudah RA. Mereka berdua asyik bercanda, saling membalas melumuri wajah madunya dengan sebuah makanan sejenis jenang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi ‘Wassalam tidak hanya tersenyum simpul, bahkan juga ikut menyemangati kedua istrinya . Berani mencoba ?
MENEMANI ISTRI
“Dari ‘Aisyah, ia mengatakan, beliau (Nabi) adalah orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit.” (HR Bukhari No 4750, HR Muslim No 2770)
MANDI DAN BERCANDA BERSAMA
Meskipun beliau sebagai seorang pemimpin yang super sibuk mengurus ummat, namun beliau tidak lupa untuk menjalin kemesraan dengan istri-istrinya. Beliau tak segan-segan untuk mandi bersama dengan istri beliau. Dalam sebuah riwayat, mandi bersama dengan Siti ‘Aisyah radhiyallahu anha dalam satu kamar mandi dengan bak yang sama.
“Dari 'Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah mandi dari jinabat bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan satu tempat air, tangan kami selalu bergantian mengambil air.” (HR Mutafaqun ‘alaih).
Dalam riwayat Ibnu Hibban menambahkan, “Dan tangan kami bersentuhan”.
Rasulullah mengajarkan kepada kita, mandi bersama istri bukanlah suatu hal yang tercela. Jika hal ini dianggap tercela, tentulah beliau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan melakukannya. Rasulullah juga sangat mengerti perasaan istri-istrinya dan tau cara menyenangkan dan memberi kasih sayang. Rasulullah, sering tidur di pangkuan Siti ‘Aisyah, meski istrinya sedang haids.
KEROMANTISAN DAN KELEMBUTAN
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam adalah seorang lelaki sebagaimana lelaki lainnya, namun bagipara ummahatul mukminin , beliau bukan sekedar suami yang biasa. Beliau adalah suami yang romantis dengan segenap arti yang bisa diwakili oleh kata romantis.
Diriwayatkan dari Umarah, ia berkata : Saya bertanya kepada Aisyah ra : “ Bagaimana keadaan Rasulullah bila berduaan dengan isri-istrinya ?“ Jawabnya : “Dia adalah seorang lelaki seperti lelaki yang lainnya. Tetapi bedanya beliau seorang yang paling mulia, paling lemah lembut, serta senang tertawa dan tersenyum “ (HR Ibnu Asakir & Ishaq ).
Jika merasa belum lengkap dengan contoh nyata dari kehidupan rumah tangga beliau, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam telah menegaskan secara khusus pada umatnya untuk berlaku romantis pada pasangannya. Beliau bersabda :
“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya. Dan aku adalah yang terbaik pada istri dari kamu sekalian “. (HR Tirmidzi & Ibnu Hibban)
Tidak tanggung-tanggung, bahkan Al-Quran juga telah mengisyaratkan hal yang senada :
“ Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, maka (bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak “ ( QS An-Nisa :41 )
Syarat untuk menjadi terbaik, harus berbuat baik terlebih dahulu kepada istri. Berbuat baik itu luas dan banyak peluangnya. Dari yang sekedar tersenyum, meremas jari tangan, bahkan hingga merawat pasangan kita saat sakit sekalipun. Subhanallah, bermesraan dengan istri itu membahagiakan hati dan menghapus segala gundah. Dan ternyata bukan itu saja, Islam juga menjadikan kebaikan, kemesraan, dan romantisnya seseorang terhadap pasangannya sebagai ladang pahala, bahkan kunci surga di akhirat kelak.
RUMAH TANGGA SEBAGAI KUNCI SURGA
Apakah maksud kunci surga itu ? Semoga dua hadits di bawah ini cukup bisa memberi jawaban bagi kita. 
“Dari Hushain bin Muhshan bahwa bibinya datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau bertanya kepadanya, “ Apakah engkau mempunyai suami ? Dia menjawab ;”Punya”, Beliau bertanya lagi: ”Bagaimana sikapmu terhadapnya ? “ Dia menjawab, “ aku tidak menghiraukannya , kecuali jika aku tidak mampu “. Maka beliau bersabda : “Bagaimanapun engkau bersikap begitu kepadanya, sesunggguhnya dia adalah surga dan nerakamu” (HR Ahmad) .
Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Siapapun wanita yang meninggal dunia sedangkan suaminya dalam keadaan ridha kepadanya, maka ia masuk surga “ (HR. Hakim & Tirmidzi) 
Ternyata, istri bisa masuk surga karena suami, begitu pula sebaliknya. Kalau masuk neraka ? Na’udzubillah min dzaalik.
Walhasil, seharusnya visi awal sebuah pernikahan adalah bagaimana menjadikan pasangan kita salah satu kunci- kunci surga bagi kita. Karena masuk surga itu penting, tapi lebih penting lagi masuk surga rame-rame dengan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Apakah bisa disebut bahagia jika kita menyaksikan orang-orang yang kita cintai dalam keadaan menderita ? Tidak sekali-sekali tidak.
WaLlahu'alam

Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat

Senin, 16 Maret 2015 | komentar

Di suatu pengajian terjadi dialog antara ustadz dan jamaahnya.

“Mayoritas ulama fiqih menyatakan bahwa sunnahnya adalah bersedekap ketika shalat. Dalam satu riwayat dari Imam Malik itu, sunnahnya tidak bersedekap. Terkait dimana bersedekapnya, dalam Madzhab Hanafi dan satu riwayat dari Imam Ahmad dikatakan bahwa sedekapnya adalah dibawah pusar. Sedangkan dalam Madzhab Syafi’i dan satu riwayat dari Imam Malik bahwa sedekapnya adalah diatara dada dan pusar. Riwayat lain dari Imam Ahmad menyatakan bahwa, kita boleh memilih diantara keduanya” terang salah seorang ustadz.

“Ustadz, kenapa kita tidak shalat sebagaimana Nabi shalat saja?” tanya salah satu jamaah.

“Maksudnya?” Selidik sang ustadz.

“Saya membaca di salah satu buku sifat shalat Nabi, katanya Nabi itu kalo shalat meletakkan tangannya diatas dada, haditsnya shahih. Jadi kita mengikuti Nabi, tidak taklid kepada ulama, ustadz. Dan shalatnya bisa sama”.

Memang salah satu tantangan menyampaikan fiqih lintas madzhab adalah dituduh taklid, plin-plan serta sering menyebabkan perpecahan ummat

Hujjah Syaikh Hasyim Asy'ari Menolak Faham Ibnu Taimiyyah

Kamis, 12 Maret 2015 | komentar

Imam Al Ghazali menceritakan sebuah kisah, bahwa disebuah perbukitan nan elok, berdirilah sebuah rumah nan indah dan sedap dipandang mata. Disekeliling rumah itu dirimbuni pelbagai pepohonan yang rindang. Halamannya penuh dengan rerumputan dan bunga-bunga yg menebar keharuman. Begitu mempesona dan memberikan rasa nyaman bagi siapapun yg menghuninya, karena dirawat dengan perawatan yg alami.
Di kesenjaan usianya, si empunya rumah tersebut berwasiat kepada anaknya agar senantiasa menjaga dan merawat pohon dan rumput-rumput itu sebaik mungkin. Begitu pentingnya, sampai-sampai ia berkata, “Selama engkau masih bertempat tinggal dirumah ini, jangan sampai pohon dan tanaman ini rusak, apalagi hilang”.
Ketika tiba saatnya si empunya rumah meninggal dunia, sang anak menjalankan apa yg telah diperintahkan oleh mendiang ayahnya dg sungguh-sungguh. Rumah itu betul-betul dirawat, demikian pula pohon dan rumputnya. Tidak hanya itu, si anak kemudian berinisiatif untuk mencari jenis tanaman lain yg menurutnya lebih indah dan lebih harum untuk ditanam di halaman rumah. Maka, rumah itu semakin menggoda untuk dilihat dan dinikmati.
Si anak berbunga bunga hatinya. Dibenaknya terlintas kebanggaan bahwa dirinya telah berhasil menjalankan amanah dengan menjaga pepohonan dan rerumputan yg menjadi penyejuk rumah lebih dari yg diperintahkan oleh orang tuanya. Bahkan akhirnya, tumbuhan baru yg ditanam si anak mengalahkan “rumput asli” baik dari segi keelokan maupun harumnya.
Namun yg patut disayangkan, tanaman dan rumput yang pernah diwasiatkan oleh ayahnya akhirnya ditelantarkan, sebab menurutnya sudah ada rumput dan tanaman lain yg lebih bagus, lebih sejuk dipandang, lebih harum dan sebagainya. Bahkan saat “rumput asli” tersebut rusak, tak ada rasa penyesalan dihati si anak. “Toh sudah ada tanaman dan rumput yg lebih bagus” pikirnya.
Tetapi anehnya, ketika “rumput asli” peninggalan orang tuanya itu rusak dan musnah tak tersisa, bukan kenyamanan dan ketentraman yg didapat. Karena ternyata, rumah tersebut lambat laun menjelma menjadi tempat istirahat yg menakutkan. Betapa tidak, rumah tersebut dimasuki berbagai macam ular, baik besar maupun kecil yang membuat si anak terpaksa harus meninggalkan rumah tersebut.
Mencermati kisah ini, Al Ghazali memaknai wasiat orang tua tersebut dengan dua hal.
Pertama, agar si anak dapat menikmati keharuman rumput yg tumbuh disekitar rumahnya. Dan makna ini dapat ditangkap dengan baik oleh nalar si anak.
Kedua, agar rumah tsb aman. Sebab aroma rumput dan tanamn tsb dapat mencegah masuknya ular kedalam rumah yg tentu berpotensi mengancam keselamatan penghuninya. Namun makna ini tidak ditangkap oleh nalar si anak. ( Qodliyyah al Tasawwuf al Munqidz Min al Dlolal, 140 ).

Relevansi
Kisah ini sangat relevan jika di analogikan dengan wasiat syaikh KH Hasyim Asy’ari untuk menghindari ajaran beberapa tokoh yg menurut beliau tidak layak untuk dijadikan panutan oleh ummat islam indonesia, karena banyak hal yg bertentangan dengan apa yg diyakini dan diamalkan oleh ummat islam indonesia yg dibawa oleh wali songo.
Kata Syaikh Hasyim Asy’ari, sebagaiman telah maklum bahwa kaum muslimin di indonesia khususnya tanah Jawa sejak dahulu kala menganut satu pendapat, satu madzhab dan satu sumber. Dalam fiqh, menganut madzhab Imam Syafi’i, dalam ushuluddin menganut madzhab Abu Hasan al Asy’ari dan Abu Manshur al Maturidi, dan dalam tasawuf menganut madzhab Imam Ghazali dan Al junaidi.
Kemudian pada tahun 1330 H, muncullah berbagai kelompok dan pendapat yg bertentangan serta tokoh yg kontroversial yg berasal dari Timur Tengah, khusunya dari Saudi.
Disamping itu, ada kelompok yg tetap konsisten dg ajaran ulama salaf dan berpedoman pada kitab kitab mu’tabaroh/representatif, mencintai ahlul bait, para auliya, dan para sholihin, bertabaruk kepada mereka, berziarah kubur, mebacakan talqin untuk mayyit, meyakini adanya syafa’at, bertawasul dll . ( Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah, 9, Risalah Sunnah Wal Bid’ah, 19) .
Salah satu nama yang disebut oleh KH Hasyim Asy'ari adalah Ibnu Taimiyyah, seorang ideolog faham Wahhabi. Wasiat Syaikh Hasyim Asy’ari tersebut bisa dimaknai dengan :

  1. Agar kaum muslimin khusunya warga nahdliyyin dalam mengamalkan ajaran islam, selalu berpegang kepada madzhab mu’tabaroh yg telah disepakati oleh para ulama.
  2. Menjaga aqidah ummat islam agar tidak terpengaruh atau dimasuki faham yg bertentangan dg ajaran ulama salaf yg sudah turun temurun diamalkan oleh ummat islam dunia khususnya indonesia dan nahdliyyin.

Kontroversi Ibnu Taimiyyah
Syaikh Abdullah al Abdari mengutip dari waliyulloh Imam al Iraqi yang menyatakan bahwa ada banyak pendapat Ibnu Taimiyyah yang menyalahi ijma' para ulama. Bahkan ada yang mengatakan sampai enam puluh masalah, baik dalam masalah ushul maupun furu' ( al Maqolat As-Suniyyah ,hal 13 ).
Diantara pendapat -pendapat Ibnu Taimiyyah yang kontroversial misalnya ia mengatakan bahwa :

  1. alam itu qodim sama dengan qodimnya Alloh Swt.
  2. dalam dzat Alloh terdapat sisi-sisi kehaditsan ( sama dengan makhluk) . 
  3. Alloh Swt memiliki Jisim. 
  4. Alloh Swt berbicara menggunakan huruf dan suara seperti manusia. 
  5. Alloh Swt naik dan turun sebagaimana turunnya manusia dari mimbar . 
  6. Dzat Alloh memiliki keterbatasan 
  7. Alloh Swt bisa di tunjuk arah dan tempatnya 
  8. tawasul dianggap syirik dan lain sebagainya        
( Maqolat Assuniyyah, hal. 79- 152).
Semoga kita sebagai warga Nahdliyyin bisa memahami dan mengamalkan apa-apa yang telah di wasiatkan oleh Guru Agung Syaikh Hasyim Asy'ari agar tetap senantiasa menjaga dan memelihara ajaran-ajaran Ahlussunnah Wal jama'ah dengan mengikuti para ulama salaf yang mu'tabar, serta mampu membendung faham Wahhabi yang di sokong oleh Saudi yang kini kian merajalela. Amin Ya Mujibassa'ilin birohmatika ya Arhamarrohimin.

Penulis : KH. Muhyiddin Abdu Asshomad


Tersesat Di Surga

Rabu, 11 Maret 2015 | komentar

Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya. Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”, Kata si pemuda dengan jumawa.
“Apa yang sudah anda lakukan?”, tanya si Sufi.
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”, kata si pemuda meledak-ledak.
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”, sahut sang Sufi.
Pemuda itu diam…lalu berkata, “Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”
“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”, jawab sang pemuda itu sambil melipat tangannya.
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
Sang Sufi mengangguk-ngangguk paham, “Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.
“Mana mungkin di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran sesat…” kata pemuda itu menuding Sang Sufi.
“Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
“Tolong diperjelas…”
“Begini saja, seluruh amalmu itu seandainya ditolak oleh Allah bagaimana?”
“Lho kenapa?”
“Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?”
“Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih saya ingat semua…”
“Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan amal ibadah anda?
Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan amal anda sekarang ini?”
Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima, soal ikhlas dan tidak ikhlas.
Dalam kondisi setengah frustrasi, Sang sufi menepuk pundaknya.
“Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Kamu cukup istighfar saja. Kalau kamu berambisi masuk syurga itu baik pula. Tapi, kalau kamu tidak bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan tuan rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?”
“Saya harus bagaimana tuan…”
“Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya akan diberikan kepadamu. Amalmu bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlasmu dalam beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik dirimu masuk ke dalamnya…”
Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.
“Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, mana mungkin neraka bersama Allah?”
Pemuda itu tetap saja bengong. Mulutnya melongo seperti kerbau.


Menelaah Ciri-ciri Penganut Paham Fundamentalis - Radikalis Dalam Islam

Selasa, 10 Maret 2015 | komentar

Prof. Dr. Hasan Hanafi (Ulama Mesir) pernah mengungkapkan bahwa "fundamentalisme dalam Islam telah bergeser ke arah radikalisme Islam" yang notabene berujung pada tindakan anarkisme dan terorisme. Jika dahulu Fundamentalisme Islam berkonotasi positif saat berada di tangan ulama semisal Ibn Taimiyyah, kini fundamentalisme berkonotasi negatif di tangan kelompok-kelompok yang bergerak mengatas namakan agama tertentu, dalam kasus ini adalah Islam. Sikap dan tindakan radikal sendiri biasanya lahir dari ke-fundamental-an dalam berfikir.
Cara beragama orang2 fundamental sendiri cenderung menghasilkan penyakit kejiwaan, bukan agama-nya yang menyebabkan gangguan kejiwaan, melainkan CARA BERAGAMA-nyalah yang menyebabkannya. Maka di sini perlu kami tegaskan bahwa cara beragama fundamental cenderung menghasilkan sikap serta tindakan yang menjurus kepada radikal. Sungguh hal yang disayangkan mengingat, sejatinya, fundamentalisme modern pada awalnya merupakan gerakan kebangkitan Islam, seperti yang diusung oleh Al-Afgani (W. 1879), tetapi kini kemudian bergeser kepada fundamentalisme eksklusif-radikal yang cenderung melahirkan tindak anarkhisme.
Lalu apa ciri-ciri dari kelompok fundamentalis radikal ini?. Syaikh Yusuf Qordawi mengungkapkan bahwa kelompok fundamentalis radikal yang fanatik dapat dicirikan oleh beberapa karakter, sebagai berikut:
1. Acapkali mengklaim kebenaran tunggal. Sehingga mereka dengan mudahnya menyesatkan kelompok lain yang tak sependapat dengannya. Mereka memposisikan diri seolah-olah "nabi" yang diutus oleh Tuhan untuk meluruskan kembali manusia yang tak sepaham dengannya.
2.    Cenderung mempersulit agama dengan menganggap ibadah mubah atau sunnah seakan-akan wajib dan hal yang makruh seakan-akan haram. Sebagai contoh ialah fenomena memanjangkan jenggot dan meninggikan celana di atas mata kaki. Bagi mereka ini adalah hal yang wajib. Sementara masalah dari pertanyaan, semisal, "sudahkan zakat menyelesaikan problem kemiskinan umat?", "sudahkan shalat menjauhkan kita dari berbuat kemunkaran dan kekacauan sosial?" Adalah hal yang terlewat oleh mereka. Jadi mereka lebih cenderung fokus terhadap kulit daripada isi.
3. Mereka kebanyakkan mengalami overdosis agama yang tidak pada tempatnya. Misalnya, dalam berdakwah mereka mengesampingkan metode gradual, "step by step", yang digunakan oleh Nab dan Walisanga. Sehingga bagi orang awam, mereka cenderung kasar dalam berinteraksi, keras dalam berbicara dan emosional dalam menyampaikan. Tetapi bagi mereka sikap itu adalah sebagi wujud ketegasan, ke-konsistenan dalam berdakwah, dan menjunjung misi "amar ma'aruf nahi munkar". Sungguh suatu sikap yang kontra produktif bagi perkembangan dakwah Islam ke depannya.
4.  Mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda pendapat. Mereka mudah berburuk sangka kepada orang lain yang tak sepaham dengan pemikiran serta tindakkannya. Mereka cenderung memandang dunia ini hanya dengan dua warna saja, yaitu hitam dan putih. Tentu saja mereka dan orang yang sepaham dengannya adalah si putih, sementara orang luar yang tak sepaham dengannya mereka letakkan dalam kotak hitam.

Setelah menyimak karakter dari fundamentalis radikal tersebut, kita wajib bertanya kepada diri kita, apakah kita termasuk yang "sakit jiwa" dalam beragama? Dan kita juga perlu menilai, apakah mereka (kelompok-kelompok yang meresahkan dengan berbalut topeng agama) adalah kelompok yang termasuk ke dalam karakter fundamentalisme radikal?. Semua dikembalikan kepada penilaian masing-masing. 

Anda boleh berbeda pandangan dengan seseorang dan itu sah - sah saja, namun alangkah bijaknya jika ketidak setujuan anda dengan pandangan seseorang di sampaikan dengan cara yang elegan pula agar bisa menjadi pendidikan yng baik bagi kita bersama . Nabi SAW pernah bersabda bahwa bukanlah seorang Muslim, yakni orang yang gemar mencaci dan melaknat. 
Wallohu A'lam


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Univ. Menyan Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Sarkub Foundation